Beberapa Perbandingan

ALLAH SWT dalam kitab-Nya Al Quran banyak menggunakan perumpamaan atau perbandingan bagi memudahkan kita memahami tentang sesuatu ilmu atau suatu perkara yang hendak diajar-Nya pada kita. Sebab dengan membandingkan atau mengumpamakan apa yang baru atau asing bagi kita dengan sesuatu yang telah jadi pengalamanharianitu, akan memudahkan lagi kita nampak apa yang dimaksudkan. Contohnya bila Allah berkata:

Terjemahannya: Perumpamaan, orang-orang yang mengambil perlindungan selain dari Allah adalah seperti labah-labah yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah labah-labah, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabut : 41)

Maka segeralah tergambar oleh kita bahwa orang yang tidak bergantung pada Allah, tapi menaruh harapan pada selain-Nya, samalah seperti labah-labah yang bergantung pada rumahnya. Rumah itu bukan saja tidak boleh menyelamatkan bahkan merbahaya baginya. Begitulah manusia yang menyandar hidup pada selain Allah. Ertinya meletak diri pada keadaan yang bahaya. Dengan perumpamaan itu orang segera nampak apa yang Dia maksudkan sebenarnya.

Banyak lagi tamsil ibarat yang Allah pilih untuk dikekalkan dalam kitab-Nya yang mulia. Yang semuanya sungguh tepat dan penuh makna, berguna untuk menyedar dan mengingatkan manusia. Jadi nyatalah bahwa salah satu kaedah pembelajaran dan pendidikan yang baik adalah dengan membanyakkan perumpamaan-perumpamaan dan perbandingan-perbandingan (tamsil) ketika menerangkan sesuatu konsep ilmu pengetahuan. Lebih-lebih lagi ilmu itu baru dan asing dari kehidupan, maka lebih utamalah kalau didatangkan satu hal yang biasa berlaku untuk dijadikan perbandingan yang tepat dan bennakna. Tapi ini bukan mudah, ia memerlukan daya fikir dan daya imiginasi yang pintar dan cepat. Kalau tidak, maka susah jugalah seseorang untuk melakukannya.

Di sini saya coba untuk memberi beberapa misalan tentang apa yang saya maksudkan di samping coba memahamkan anda sesuatu yang mungkin asing bagi anda.

  1. Bandingan orang yang mencampur-adukkan perintah Allah dengan larangan-Nya

Bandingan seseorang yang mencampur-adukkan perintah Allah dengan larangan-Nya adalah seperti seorang pesakit yang makan obat tapi makan juga pantang-larangnya. Al hasil sakit tidak juga baik.

Ertinya orang yang melaksanakan perintah-perintah Allah seperti sholat, puasa, zakat, haji, berkorban, berjuang dan lain-lain. Kemudian dibuat juga larangan Allah seperti makan riba atau membantu sistem riba, judi, bergaul bebas tanpa batas lelaki perempuan, membuka aurat, mengata, hasad dengki, riak, ujub, bakhil, tamak, pemarah, ingin pangkat, mendirikan sistem pendidikan sekuler dan lain-lain lagi, maka dia sebenarnya tidak akan mendapat apa-apa di akhirat nanti. Samalah keadaannya dengan seorang yang sedang terlantar karena sakit kencing manis misalnya.

Bila dokter bagi obat, dia makan tanpa menolak satupun. Kemudian datang tukang bawa makanan, diambilnya makanan-makanan yang dilarang makan oleh dokter. Teringin, katanya. Apakah hasilnya? Kalau patut dia dirawat cuma dua bulan di Rumah Sakit, mungkin akan jadi lima bulan. Mungkin juga dia akan menderita sakit selama-lamanya. Tidak mungkin berlaku obat yang disertai oleh pantang-larangnya itu dapat membawa kebaikan atau kesihatan pada orang itu. Janganlah dibandingkan perkara ini dengan berkata, “Minyak dan air tidak mungkin bercampur.”

Itu bandingan yang tidak tepat. Sebab nilai kebaikan dan kejahatan tidak boleh disamakan dengan minyak dan air sebab kebaikan dan kejahatan adalah dua perkara yang bertentangan sedangkan minyak dan air sama-sama membawa kebaikan pada manusia. Seorang yang ada air dan ada minyak adalah orang yang memiliki bahan-bahan yang berguna tetapi seseorang yang baik, tapi buat juga jahat boleh membuatkan orang tidak percaya padanya. Ya, satu segi dia banyak kawan, orang baik pun kawan dia. orang jahat pun terima dia, tapi hakikatnya dia akan keseorangan. Orang baik pun tidak ambil dia masuk group mereka, sebab dia tidak baik betul. Dan orang jahat pun tidak ajak ‘joint’ dengan mereka, sebab dia tidaklah jahat betul. Jadi, akhirnya keseoranganlah dia di atas pagar. Bila orang jahat dan orang baik bertembung untuk mempertahankan cita-cita perjuangan mereka, maka si dia di atas pagar perhati saja, mana kuat dan nampak-nampak hendak menang dia akan lompat ke sana.

Orang begini adalah golongan hipokrit atau munafik yang tempatnya adalah di dasar neraka. Jadi janganlah lagi kita bangga karena dapat buat baikdan buat jahat sekali (all rounder). Tetapi buatlah kebaikan karena Allah, dan tinggalkanlah kejahatan karena Allah. Dan janganlah mencari kepentingan-kepentingan lain di sebalik tindak-tanduk kita.

  1. Bandingan orang yang buat amalan sunat sahaja atau amalan fardhu sahaja.

Bandingan orang yang buat amalan sunat saja adalah seorang yang hanya ada tangan, kaki tapi tidak ada kepala. Sebaliknya bandingan orang yang buat amalan fardhu saja tetapi tidak buat sunat, ibarat orang yang ada kepala saja tapi tiada telinga dan tidak ada jari-jari.

Bayangkanlah seorang manusia yang tiada kepala. Maknanya orang itu tidak hidup dan tidak boleh berfungsi lagi. Ada, bagai tidak ada. Begitulah halnya seorang hamba Allah yang sibuk dengan sedekah sana,sedekah sini, kenduri itu, kenduri ini, beri macam-macam pelayanan dan kebaikan pada orang tapi dia tidak sholat. Kalau sholat pun main-main, kadang buat, kadang tidak. Orang ini kebaikannya tidak diterima di sisi Allah. Sebab dia hanya buat kebaikan yang kecil tapi buat kesalahan yang besar. Dengan kata lain dia hanya ada kaki dan tangan, tapi tidak ada kepala. Bila kepala tidak ada, manusia tidak boleh hidup, maka tidak berguna pulalah kaki dan tangan tadi.

Sebaliknya seorang hamba Allah yang buat amalan fardhu saja, tidak dibantu dengan yang sunat, keadaannya sama seperti orang yang ada kepala dan ada anggotaanggota penting tapi tidak ada telinga, tidak ada hidung dan tidak ada jari-jari. Orang ini boleh hidup, masih boleh berfungsi tapi tidak sempuma, tidak cantik. Siapa sanggup hidup tanpa telinga, tanpa hidung dan tanpa jari-jari? Tentu tidak. Kalau begitu, kita tidak boleh rasa cukup dengan amalan-amalan fardhu sahaja. Patutlah kita iringi dengan amalan-amalan sunat sebanyak mungkin, supaya Islam kita nampak sempuma dan cantik.

  1. Bandingan orang yang tidak kenal dirinya.

Seorang yang tidak kenal dirinya hingga meletakkan diri itu di tempat yang tidak sesuai baginya, bandingannya adalah seperti periuk kuali diletakkan di atas pelamin. Biasanya periuk dan kuali diletakkan di dalam kabinet yang bertutup di ruang dapur. Bukannya di ruang hadapan, di depan tetamu. Apalagi bertakhta pula di atas pelamin. Alangkah buruknya kalau dibuat begitu. Tapi begitulah halnya dengan orang yang tidak tahu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dia akan membuat sesuatu yang sangat janggal, pelik dan menyusahkan orang lain.

Maka demikianlah halnya dengan orang yang tidak kenal dirinya. Dia akan meletakkan dirinya di tempat yang tidak tepat. Hasilnya bukan saja dia yang susah, orang lain pun turut susah dan seluruh keadaan boleh rosak dibuatnya.

Supaya jelas elok saya contohkan kepada sebuah rumah tangga yang terdiri dari ibu ayah dengan beberapa orang anak. Setiap orang anak memang ingin perhatian dan kasih sayang dari ibu bapa. Manakalaibu ayah pula memang mengasihi semua anaknya. Tapi biasanya, lain anak lainlah caranya, dan keistimewaannya. Dan kasih sayang ibu bapa pun akan tercetus melalui faktor kelainan dan keistimewaan tadi. Katalah A kebolehannya menolong ibu bapa di dapur. B boleh mengemas rumah. C boleh mengurut dan memijat ibu ayah. D pandai berbual dan berbincang dengan ibu ayah. Atas keistimewaan-keistimewaan ini maka tiap-tiap anak akan dikasihi oleh ibu ayah kalau masing-masing boleh lahirkan keistimewaan-keistimewaan itu. Emak ayah sayang malah bangga karena ada yang menolong mereka di dapur, di dalam rumah, boleh rawat-merawat dan ada pula yang boleh diajak berunding. Kalaulah anak-anak itu sedar hakikat diri masing-masing, maka diletakkan di tempatnya akan tenang dan bahagadalah rumah tangga.

Tapi sekiranya anak-anak tidak kenal diri sendiri, tidak tahu apa kerja yang sesuai dan tempat yang layak baginya, maka akan terjadi perebutan tugas dan persaingan sengit dalam rumah. Yang boleh bawa merajuk, marah-marah, berdengki, berdendam dan tegangnya rumah tangga. Dalam keadaan itu ibu ayahlah yang paling menderita. Anak-anak pun susah juga. Walhal tujuan asal berebut dan berlawan tadi adalah hendak perhatian dan kasih sayang emak ayah, tapi apa yang dapat adalah emak ayah marah dan sedih, rumah tangga tegang dan anak-anak pun renggang antara satu sama lain.

Misalnya, si A ingin buat macam C, boleh duduk dekat-dekat selalu dengan emak ayah, boleh pegang-pegang dan main-main dan manja-manja dengan emak ayah. Jadi dia pun hendak lawan C, dia pun ambil tugas C. Yang C pula rasa tercabar maka merajuk langsung tidak mau dekat emak ayah lagi. Al hasil sudahlah A dan C berdengki berdendam. Emak ayah pula marahkan A sebab hendak buat keja yang bukan kerja dia. C pun kena marah sebab mudah sangat merajuk. Akhirnya kucar-kacirlah keadaannya. Demikian juga kalau B yang tidak pandai berunding, ingin hendak menyertai perundingan. Sudahlah kerja dia tidak jadi, datang pula hendak kecohkan kerja orang lain. D rasa marah terus mengamuk-amuk, maka emak ayah kacaulah dibuatnya. Inilah akibat orang yang tidak kenal diri dan meletakkan diri bukan pada tempatnya. Kesannya buruk sekali. Coba kiaskan tamsil ini pada suasana dan tempat masing-masing, supaya saudara tidak termasuk orang yang tidak kenal diri dan meletak diri bukan pada tempatnya.

Setengah orang dia memang kenal dirinya, siapa dan sesuai di tempatkan di mana. Tapi oleh karena tidak senang dengan kelebihan orang lain, hasad dengki dengan kejayaan orang, maka dia pun cari pasal untuk berada di tempat yang bukan tempatnya. Di samping itu berusaha pula untuk jatuhkan orang supaya dia saja yang naik. Hal ini amatlah bahaya dan boleh memecah-belahkan manusia seterusnya masyarakat. Jadi eloklah masing-masing didik diri supaya nafsu jangan diturutkan. Mudah-mudahan kita terpilih sebagai orang yang membawa faedah padamasyarakat dan tidaklah sebaliknya.

  1. Bandingan orang yang tidak mengamalkan ilmunya.

Bandingan seorang yang tidak mengamalkan ilmunya, hanya sekadar disyarah-syarah dan dikertas-kejakan adalah bagai seorang dokter yang tahu obat dan teori pengobatan sebarang jenis penyakit, tapi pengetahuan itu tidak dipraktikkan. Akibatnya, tidak seorang pun pesakit yang dapat disembuhkan.

Berapa ramai hari ini cerdik pandai Islam dengan berbagai jawatan dan kedudukan, dengan ilmu Islamnya yang tinggi, diiktiraf pula oleh berbagai universiti di dunia, dalam dan luar negeri. Yang mereka itu rajin pula memperkatakan bahkan memperjuangkan Islam melalui lisan dan tulisan, disyarahkan, dibahaskan, ditempikkan atau ditulis dan dikertas-kerjakan, tapi Islam tetap dan terus tidak diamalkan. Islam yang syumul, mencakup seluruh bidang hidup (bermula daripada mengucap dua kalimah syahadat, sholat, puasa, zakat, haji yakni hukum-hukum fardhu ain, dihias pula oleh perkara-perkara sunat ain yang beribu banyaknya, ditambahkan dengan hukum-hukum fardhu kifayah seperti membangunkan sistem pendidikan, budaya, perobatan, perhubungan, muamalah, munakahat, siasah dan serba macam lagi diperluaskan dengan perkara-perkara sunat kifayah yang ribuan banyaknya), tidak pernah dibangunkan olehmereka itu walaupun di dalam satu masyarakat kecil di sekitar kediaman mereka iaitu sebagai contoh kepada masyarakat umum tentang bentuk Islam yang mereka syarah-s yarahkan itu. Sekurang-kurangnya sebagai hasil syarahan itu, kalaupun gagal membuatkan pihak lawan terima dan laksanakan Islam, cukuplah kalau diajak kawan-kawan seperjuangan membangunkannya, supaya pencinta-pencinta Islam tidak lagi terlibat dalam sebarang sistem yang bukan Islam.

Tapi itu pun belum mereka lakukan. Hingga tertanya-tanyalah manusia, bagaimana dan bilakah teori Islam yang mereka syarah dan bahas itu hendak mereka mulakan dalam hidup mereka dan harakah mereka sekurang-kurangnya. Sedangkan tanda-tanda untuk bermulanya kebangkitan yang mereka harapkan itu makin malap. Mana cukup kebangkitan Islam setakat pakai serban, pakai tudung kepala, mengaji, berusrah, bermuktamar, mesyuarat agong dan forum saja.Kalaulah wajah Islam itu tinggi dan besarnya bagai gunung maka pakai serban dan tudung kepala itu ertinya barulah membangunkan sebuah busut. Mana lebihnya yang masih banyak lagi itu?

Perjuangan Islam bukan setakat mensyarahkan Islam tapi yang lebih penting adalah menegakkannya. Kalau usaha-usaha praktikal langsung tidak ada, apa beza dengan musuh Islam (para orientalis) yang turut menulis buku Islam bahkan mensyarahkannya?

Islam bukan untuk di’mental exercise‘kan. Ia adalah sistem hidup yang mesti dilakukan sepanjang hidup. Kalaulah kita gagal berbuat demikian, maka samalah kita dengan seorang dokter yang hafal semua teori perobatan tapi tidak mempraktikkannya. Berjayakah dokter itu terhadap pesakitnya? Terhadap dirinya dan terhadap cita-cita perjuangannya? Lebih dahsyat kalau dokter tahu yang hisap rokok itu bahaya tapi dia pun hisap juga!

  1. Bandingan orang yang mau terus Islamkan negara.

Bandingan seorang yang memperjuangkan Islam tapi terus mau Islamkan negara, samalah dengan orang yang mau membangunkan rumah di atas lumpur. Walau bagaimana gagahpun rumah itu nescaya tidak kuat dan tidak tahan lama. Begitulah kalau negara saja Islam tapi masyarakatnya tidak, maka negara itu tidak akan kuat bahkan tidak wujud lama. Negara Islam hanya akan terbangun kalau masyarakatnya dahulu yang di-Islamkan. Tapi kalau masyaralcat belum Islam, maka pemerintah hanya dapat Islamkan undang-undang dan peraturan, tapi tidak dengan manusia-manusianya. Dan kalau masyarakat tidak terima Islam, ertinya undang-undang dan peraturan hanya diterima di parlemen, ditulis di kertas-kertas atau di papan-papan tanda atau di dinding-dinding masjid dan di lain-lain tempat.

Islam tidak dapat dilaksanakan pada diri individu manusia. Kecualilah dalam hal-hal yang boleh dipaksakan seperti curi dipotong tangan, zina direjam. Itupun belum tentu dapat dibuat, kalau tukang potong tangan pun mencuri, berzina, bagaimana? Saudara pergilah sendiri dan saksikan apa yang sedang berlaku di Pakistan dan Saudi Arabia. Sudah lebih kurang sepuluh kali saya singgah di Pakistan dan telah melihat sendiri keadaan di sana. Pakistan sudah diisytiharkan sebagai negara Islam. Saudi Arabia lebih dulu lagi. Maknanya seluruh undang-undang yang dipakai di sana adalah mengikut Al Quran dan Sunnah (dari segi pengisytiharan dan tulisan). Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Masjid-masjid kosong walaupun waktu sholat. Kalau ada pun, tidak padan dengan besarnya masjid dan kuatnya laungan azan. Ribuan, malah jutaan rakyat terus berkeliaran ke sana sini tanpa kisahkan masjid mereka.

Di bulan puasa senang-senang saja kita tengok orang makan di kedai-kedai, minum di jalan dan hisap rokok merata-rata. Apa lagi di sana bulan Ramadhan musim panas dan siang lebih panjang, maka bilangan yang puasa boleh bilang dengan jari. Kapal terbang Pakistan PIA menghidangkan minuman dan makan tengah hari untuk penumpangnya di bulan puasa. Dan hanya berapa orang saja penumpang menolak hidangan karena puasa. Saya tidak pasti tentang hukum zakat dan haji, berjalan atau tidak. Sebab perkara itu tidak nyata. Yang nyata adalah wanita-wanita mereka hampir tidak ada yang tutup aurat ikut Quran dan Sunnah. Wanita-wanita yang memenuhi Karachi, Lahore dan Islamabad itu lebih kurang sama saja dengan wanita-wanita yang memenuhi bandaraya New York, Christchurch dan Perth. Bezanya cuma orang-orang putih itu lebih bersih dan kemas.

Bagaimana pun tidak ada pasangan lelaki perempuan berdua-duaan berpegangan tangan di Pakistan. Sebab di sana kalau adalah yang buat begitu, nanti akan dibelasah oleh orang ramai. Ertinya perkara itu tidak dibuat bukan karena Islam tapi takut kena belasah. Buktinya filem-filem, majalah-majalah malah televisyen Pakistan terang-terangan menunjukkan gambar-gambar kotor dan lucah itu. Peminta sedekah berkeliaran di Karachi bagai kucing liar. Ramai dan tidak terkawal. Dan mereka itu katanya bekerja ikut kumpulan dan ketua masing-masing. Kita senantiasa takut ditipu oleh driver teksi dan diburu oleh peminta sedekah sepanjang kita berada di sana. Dan sukar untuk kita jumpa dengan rakyat Pakistan yang mau senyum dengan kita. Hampir semua kasar-kasar.

Cukuplah itu untuk buktikan bahwa bukan mesti bila negara Islam, masyarakat turut Islam. Tapi kalau kita tanya rakyat Pakistan, adakah Pakistan menjalankan undang-undang Islam? Mereka akan jawab “Yes.” Undang-undangnya Islam tapi orang-orangnya tidak ikut Islam. Untuk apa kita hendak dapat negara Islam? Tentu untuk meng-Islamkan orang-orangnya. Kalau begitu perjuangan kita jangan dimulakan dengan persoalan negara, tapi mulakan dengan meng-Islamkan individunya. Yakni Islam dalam erti kata tunduk dan taat pada semua perintah Allah yang wajib, sunat, fardhu ain, fardhu kifayah, sunat ain dan sunat kifayah. Di samping tinggalkan perkara-perkara haram dan makruh karena mentaati Allah dan Rasul-Nya. Bila semua orang sudah dididik sebegitu rupa, maka waktu itu kalau kita isytiharkan negara Islam, barulah pengisytiharan itu akan didengar dan diterima oleh manusia. Kita kata jangan berzina, nanti mereka tidak zina lagi. Tapi hari ini zina bukan saja di kelab malam tapi berlaku juga di kawasan masjid di Malaysia.

Iran yang dibanggakan sebagai negara Islam abad kini, pun sebenarnya indah khabar dari rupa saja. Saya pemah bertemu seorang guru dari rakyat Iran ketika di Pakistan. Beliau dan isteri serta anak-anak sedang bercuti, karena itu lari ke Pakistan. Lari dari peperangan. “Kami lebih suka rejim dulu, sebab tidak berperang.” Itu pengakuan rakyat jelata Iran. “Bumi Iran sudah kering tandus dari pokok, karena bom. Dan kami senantiasa ketakutan kalau-kalau jadi mangsa bom. Dan kami senantiasa bersedia untuk lari ke bukit sekalipun tengah makan agar selamat dari letupan bom.” Begitu corak pemerintahan Islam di Iran.

Rakyatnya menganggap pemerintahan Islam lebih kejam dari zaman Shah Iran. Islam agama peperangan. Begitulah Khomeini memperkenalkan Islam pada dunia, khusus pada rakyatnya. Bila ditanya kenapa isterinya tidak pakai cadur semasa di Pakistan sedangkan kita dipahamkan seluruh wanita Iran bercadar maka guru dari Iran itu menjawab, “Itu kalau di Iran. Kami dipaksa memakainya. Sebab itu ribuan wanita Iran yang tidak sanggup memakainya melarikan diri ke negara-negara luar.” Tidak peliklah kalau pelarian Iran sekarang adalah tiga juta orang. Satu bilangan yang paling tinggi mengatasi negara lain. Ertinya rakyat Iran tutup aurat karena undang-undang bukan karena Allah. Mereka boleh selamat di dunia tapi tidak dari hukuman Allah. Apalah ertinya negara Islam yang begini? Yang tidak boleh selamatkan orang daripada api neraka?

Hal yang sama berlaku di Saudi Arabia. Ketika saya terbang dari London ke Saudi, tiada seorang pun wanita dalam kapalterbang itu yang pakai cadar. Tapi ketika mendarat di Saudi, wanita-wanita Arab tadi sudah siap pakai hitam, tutup aurat. Ertinya wanita-wanita itu menutup aurat hanya ketika berada di negeri mereka. Tapi tidak di luar negeri. Apa ertinya negara Islam yang begini? Wakil Darul Arqam di Thailand, Ustaz Mohd. Adam yang pernah belajar di Saudi 17 tahun, pemah bercerita pada saya satu hal yang sungguh dahsyat. Katanya beliau selalu sholat di sebuah masjid di Saudi, berimamkan seorang rakyat Saudi yang bertugas sebagai imam masjid tersebut. Kemudian ketika beliau balik ke Thailand, secara kebetulan beliau berjumpa lagi imam tadi. Terperanjatnya dia bila tengok imam itu membawa dua orang perempuan Thailand di kiri kanannya.

Begitukah pribadi imam dari sebuah negara Islam di dunia ini? Saya sendiri menyaksikan di lapangan terbang Jeddah, dua orang pekerjanyabertumbuk. Bagaimana boleh negara Islam mempunyai rakyat yang begitu buruk akhlaknya. Nampaknya negara dan undang-undang saja yang Islam, rakyatnya tidak.

Atas dasar itulah saya tetap berkeyakinan bahwa perjuangan mendapatkan negara Islam tidak sama hasilnya dengan perjuangan mendapatkan masyarakat Islam. Dapat negara Islam lebih mudah malah lebih untung (?) daripada mendapat masyarakat Islam. Sebab itu keghairahan pejuang-pejuang Islam tertumpu kepada yang pertama. Namun usaha-usaha mereka itu tidak akan sampai ke. mana. Sebab negara yang rakyatnya tidak Islam akan lebih mudah diperkotak-katikkan oleh Yahudi dan Nasrani. Lihat sejarab ini di Indonesia. Parti Islam Marsyumi pernah dapat memerintah Indonesia dipimpin oleh Mohd. Nasir. Tapi karena rakyat tidak bersedia, bahkan anggota parti pun tidak bersedia maka akhirnya jatuh dan lepas itu Islam tidak dipercayai lagi. Maka masuklah Kristian ke Indonesia.

Perjuangan mendapatkan negara umpama membina rumah di atas lumpur. Nampaknya memang gagah tetapi karena tapaknya tidak kuat yakni masyarakat tidak bersedia maka rumah itu mudah roboh. Rumah akan selamat kalau penghuninya sayang rumah itu. Kalau tidak, bila-bila masa saja rumah itu boleh dimasuki pencuri. Islam mesti dimulakan dengan iman, kepahaman dan penghayatan bukan dengan negara. Apa ertinya perjuangan mendapatkan negara Islam walhal keluarga dan diri sendiri pun belum benar-benar Islam. Ini adalah perjuangan lapuk dan basi.

Kalau iman sudah dididik dan diasuh agar bertapak kukuh di hati manusia maka tidak payah kita rebut negara itu, mereka akan menyerahkannya bahkan mereka sama-sama membangunkan negara Islam. Lihat bagaimana caranya Nabi Muhammad saw dapat negara Islam. Iaitu sesu’dah Islamnya 313 orang sahabat yang penuh iman dan kuat taqwa. Yang menjadi pendeta di malam hari, berjuang bagai singa di siangnya. Mereka bekerja sepenuh masa untuk bangunkan sebuah masyarakat kecil Islam. Inilah asas negara Islam. Yang kemudiannya diterima di seluruh Madinah, melalui proses mendidik iman. Yahudi dan Nasrani pun hormat dan terima pemerintahan mereka. Hal yang sama dilakukan hingga Islam bertapak ke 3/4 dunia.

  1. Bandingan orang yang memperjuangkan Islam dengan kasar.

Bandingan orang yang memperjuangkan Islam secara kasar campur marah (emosional), tidak tenang dan tidak ikut akhlak Islam adalah seperti orang yang menghidangkan makanan lazat berzat dan berharga kepada tetamu dengan dicampak-campak atau dilempar-lemparkan dan dalam keadaan masakannya tidak sempurna pula. Sanggupkah tetamu itu memakannya sekalipun yang dijamu itu adalah udang galah, hati dan limpa? Jawabnya tentu tidak. Sebaliknya kalau sambal belacan dan ikan kering sahaja pun tetapi dihidang dengan ramah mesra dan senyum manis di tempat yang cantik, akan terasa lazatnya makanan itu. Sebab apa yang penting adalah perasaan kita terhadap perkara itu. Kalau kita suka, yang buruk pun jadi cantik. Tapi kalau tidak suka, yang cantik pun jadi buruk.

Sebab itu kalau Islam yang cantik dan indah itu diperkatakan dan disampaikan dengan cara yang menyakitkan hati orang, tentu orang tidak akan terima Islam itu. Bukan salah Islam tetapi salah orang yang menyampaikannya itu. Konon hendak ajak atau menyuruh orang mengamalkan Islam, tetapi dikata-katanya orang itu, dihina-hina, dituduh itu ini, didedah aib orang itu, diperli-perli, kalau orang berkeras dia lagi kasar, ditengking dan dicabar pula orang itu. Macamanalah orang mau ikut. Mungkin depan kita orang malas hendak bergaduh, tapi di belakang kita tentu dia akan lipat kita habis-habisan. Bukan saja tidak ikut bahkan lagi jauh. Bukan orang saja yang dibenci dan dikata, bahkan Islam yang kita bawa pun dikata cerca sama. Al hasil perjuangan kita tidak akan diikut orang. Musuh pun tidak segan, kawan pun tidak sayang. Orang ramai tidak simpati samalah seperti kita sudah kata dan hinakan tetamu, kemudian kita hidang sate, lalukah dia hendak makan? Tentu tidak.

Nabi Muhammad saw dan para sahabat adalah orang-orang yang sangat halus akhlaknya. Allah pun puji, malaikat puji, manusia pun suka dan sayang. Bahkan musuh pun mengaku bahwa yang mereka musuhi itu adalah orang yang baik hati dan akhlaknya. Dalam keadaan itulah Islam diperjuangkan. Orang terpaut pada perjuangan mereka karena melihat baiknya mereka itu. Lemah lembut, kasih mesra, suka menolong, merendah diri, pemurah, pemaaf, ramah-tamah, tidakmarah-marah, sabar, berbaik-sangka, senantiasa senyum dan bersungguh-sungguh dalam kerja mereka. Sejarah meriwayatkan bahwa ramai orang kafir peluk Islam adalah karena tertawan dengan akhlak Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Akhlak umpama bunga yang boleh menarik siapa saja kepadanya. Tentu agama yang dibawa itu agama yang benar, kalau tidak masakan dia boleh membuatkan orangorang itu sebaik itu, begitulah fikir mereka. Maka mereka pun menganut Islam. Tapi kalaulah Nabi Muhammad saw SAW berlaku kasar dan menyakitkan hati mereka, tentu sekali tiada sebab mereka sanggup mengorbankan kecintaan kepada agama asal mereka. Bahkan mungkin mereka semua akan terns bersatu padu untuk menentang Nabi Muhammad saw.

Di sini saya suka memberikan beberapa contoh akhlak mulia Nabi Muhammad saw yang ditunjukkan ketika menghadapi kerenah kaumnya. Mudah-mudahan perkara ini menjadi panduan kita untuk menghadapi ragam kaum kita.

  1. Nabi Muhammad saw pernah dicaci-maki, dihalau dan dilontar dengan batu hingga mengalir darah di kakinya oleh kaum Thaqif di Taif. Mereka itu marah karena Nabi Muhammad saw datang mengajak mereka kepada agama Islam. Maka berlarilah Nabi Muhammad saw menyembunyikan diri di balik bukit agar terlindung dari orang-orang yang memburunya itu. Tiba-tiba turunlah malaikat dan berkata pada Nabi Muhammad saw, “Katakan apa saja untuk dilakukan pada kaum ini.” Apa jawab baginda? Satu jawapan yang tidak diduga oleh sesiapa pun. Satu kata-kata yang lahir dari jiwa yang benar-benar mulia lagi suci murni. Inilah akhlak agung baginda. Dan inilah yang mesti jadi ikutan kita. Baginda memaafkan kesalahanorang yang telahmelukakan hatinya dengan berkata, “Wahai Tuhan, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.” Begitulah baiknya baginda. Orang yang telah menyakitinya pun didoakan. Sedangkan kita orang yang sudah berjasa pun boleh kita durhaka.
  2. Satu lagi kisah baiknya hati baginda adalah ketika baginda menziarahi seorang tua yang sakit, yang selama ini sangat menyusahkan baginda ketika pergi berdakwah. Terperanjatlah wanita tua dan berkata, “Engkau datang Muhammad, ketika aku terlantar sendirian sedangkan selama ini aku banyak menyusahkanmu. Sesungguhnya engkau memang benar, wahai Muhammad.”Maka dia pun memeluk Islam.
  3. Peri rendah hatinya Nabi Muhammad saw itu dapat kita lihat ketika satu hari datang ke majlis makan baginda seorang fakir yang hitam legam kulitnya, kudis yang bemanah dan berair memenuhi badannya. Para sahabat seperti kurang senang dengan kedatangannya dan bimbang kalau-kalau dia masuk dan duduk di sebelah mereka. Tapi apa reaksi Nabi Muhammad saw Baginda bangun dan pegang tangan si fakir, dipimpin dan dibawa duduk betul-betul di sebelahnya. Maka makanlah baginda bersama si fakir. Begitu rendah hati baginda dan rasa kehambaan yang dicapainya. Walhal darjat baginda adalah paling tinggi, tiada manusia lain yang boleh capai darjat setinggi itu. Namanya diletakkan di sisi nama Allah, selaku manusia, yang paling dikasihi oleh Allah. Hingga kini nama itu disebut dan dilaunglaung seluruh dunia setiap masa ketika. Alangkah hebat dan mulianya baginda tapi hatinya tetap rasa dia hamba Allah yang hina. Tidak sedikit pun rasa sombong, angkuh takabur. Sebab itu baginda boleh pimpin tangan si fakir miskin yang kotor dan busuk untuk duduk dan makan bersama baginda. Itulah akhlak mulia yang telah dilaksanakan untuk jadi panduan dan contoh kepada kita untuk tegakkan Islam.

Kalaulah akhlak seperti ini dapat kita miliki, kemudian kita jadikan senjata untuk memperjuangkan Islam tentu sudah lama orang bukan Islam pun masuk Islam. Apalagi umat Islam, tentu tertarik dengan badan-badan Islam. Sebab akhlak baik memang semua orang suka. Orang kafir pun suka. Jadi bila mereka tengok pejuang Islam itu baikbaikbelaka, lemahlembut dengan mereka, sukamenolong, pemurah, pemaaf, beri kasih sayang dan rendah diri, tolak ansur, maka tentu tertarik hati mereka bahkan tertanyatanya dan teringat-ingat pada ajaran yang dapat menjadikan manusia-manusia sebaik itu. Seakan-akanmerekabertanya, “Bagaimana kamu sebaik ini?” Tentu kita jawab, “Inilah Islam.” Maka dia akan berkata, “Saya pun ingin jadi Islam.”

Tetapi itu hanya kalau pejuang Islam menggunakan akhlak yang disuruh oleh Islam dalam memperjuangkan Islam. Ditambah dengan sistem ekonomi, pendidikan, sosial, politik Islam yang cantik dan indah, kalau dapat kita tegakkan dan tunjukkan pada manusia sedunia (sekalipun cuma satu kampung, yakni kampung contoh) sudah tentu nasionalis, kapitalis, sosialis dan sekuleris ini sudah menyerah diri pada Islam. Karena tertarik dan terasa serta nampak kebenaran Islam. Sama sebagaimana kabilah-kabilah Auz dan Khazraj dan lain-lain menyerah diri pada Nabi Muhammad saw bahkan turut sama-sama memperjuangkan Islam di kota Madinah. Tapi apa yang sebenarnya telah berlaku hari ini? Harah-harakah Islam dibenci oleh umat Islam, apalagi orang-orang bukan Islam. Benci karena Islam yang diperjuangkan itu nampaknya begitu buruk, hodoh, jahat serta buruk sekali. Terasa oleh mereka Islam itu adalah bergaduh, bermusuh, miskin, keras, kejam, anti pembangunan, gilakuasa, sempit, jumud, pasif, tidak produktif, tiada pelayanan untuk masyarakat dan karena itu tidak layak untuk dilaksanakan dalam dunia yang serba moden, maju dan mewah serta hebat hari ini.

Karena itu umat Islam sendiri takut pada Islam. Apalagi orang kafir. Takut-takut kalau ikut Islam nanti kehidupan mereka lebih teruk, lebih hina, lebih jahat, lebih lembab dari sebelunnya. Kalau begitu untuk apa mereka ikut pejuang-pejuang Islam. Lebih baik dipertahankan yang lama. Setengahnya ambil sikap menentang gerakan Islam supaya tidaklah budaya yang diperjuangkan itu dapat berkembang di tengah masyarakat.

Itulah yang berlaku sekarang. Orang takut pada Islam, karena pejuang Islam sendiri gagal membuktikan yang Islam yang dipejuangkan boleh melahirkan segala kebaikan. Menyelesaikan segala masalah sosial, masalah keruntuhan akhlak muda-mudi, masalah ekonomi dan politik, mewujudkan perpaduan, membawa keadilan, keamanan dan kesejahteraan lahir batin semua orang dan , seluruh dunia. Pejuang Islam sendiri nampaknya sombong, takabur, bercakap banyak buat tidak, suka mengata-ngata dan menghina sesama manusia, gila kuasa, gila dunia, bersandar nasib dan rezeki dengan orang lain, tidak boleh berdikari, tidak membangun, konon anti taghut tapi ikut juga sistem taghut, konon hendak selesaikan masalah masyarakat, masalah negara, tapi masalah sesama sendiri pun tidak selesai. Kalau begitu sampai bila pun orang tidak berani hendak ikut Islam. Mungkin ada juga yang ikut program untuk isi masa lapang sebagai hobi, tapi untuk sama-sama tungkus-lumus bermati-matian untuk perjuangan, tentu tidak. Sebab mereka nampak perjuangan tidak menjamin keselamatan hidup. Kalau pengikut pun tidak yakin untuk ‘full-time’ dan bermati-matian dengan perjuangan, apahal para pemerhati?

Begitulah kalau Islam dipejuangkan dengan cara yang salah, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Hati ingin tawan dunia, tapi makin hari dunia makin jauh dari kita. Islamnya masih kekal dalam bentuk namanya saja. Akhinnya nanti akan keseorangan dan terpaksa istirahat dari perjuangan. Barangkali anaknya akan bertanya, “Apa jadi dengan perjuangan ayah?” Maka dia mengeluh’ Sepatutnya negara ini sudah ayah Islamkan. Tapi kenapa ayah boleh begini dan ke sini?” Tentu anaknya akan jawab kembali, “Barangkali ayah tersalah pilih jalan!”

  1. Bandingan orang yang tidak sabar dengan ujian

Bandingan seorang hamba yang tidak sabar dengan ujian dari Tuhannya adalah seperti seorang anak yang memberontak ketika ibunya mengambil sesuatu padanya. Jasa ibu pada anak tidaklah terkira banyaknya. Kalau mau dinilai penat-lelahnya mengandungkan kita, melahirkan, menjaga, menyusukan, membesarkan, menyekolahkan, mendidik dan menyediakan segala makan minum, pakaian dan tempat tinggal, nescaya tidak ternilai. Kalau mau dibayar dengan Wang rasanya boleh jadi berjuta ringgit. Tapi belum pernah berlaku seorang ibu minta dibayar segala pahit-jerihnya itu. Ibu sangat sayang pada anak. Semua jasanya dilupakan karena kasih sayang. Bila dia tua, tidak mampu hendak cari rezeki lagi, maka dia minta duit dengan anaknya sekadar lima puluh ringgit sebulan. Tapi anaknya yang gaji $1,000 sebulan tidak setuju. Dia berontak. Tidak senang, tidak setuju dan dia rasa tidak patut ibunya berbuat begitu. Apakata kita terhadap anak itu? Patutkah seorang anak memberontak dengan permintaan ibunya yang sekecil itu? Sedangkan pemberian ibu sudah berjuta ringgit, tapi hendak minta lima puluh ringgit pun dia marah.

Itulah anak durhaka. Anak tidak mengenang budi. Tidak tahu berterima kasih.

Begitulah halnya dengan hamba Tuhan yang tidak sabar dengan ujian. Tuhan yang sudah jadikan dia, lengkap dengan kaki tangan, kepala badan dan semua anggotaanggota dengan lengkap dan sempurna tanpa cacat. Kemudian diberi nafas supaya dapat hidup sekian lama. Diberi rezeki, kesihatan, kekayaan, pangkat, jawatan, anak isteri, rumah, kendaraan, harta benda, kawan rakan, kepandaian, kecantikan dan serba-serbi lagi kalau hendak dihitung tidak kan terhitung. Hendak dinilai dengan duit, tidak terkira banyaknya. Harga gigi palsu saja terasa mahal, apa lagi yang asli dari Allah. Jantung yang berdegup, mata yang berkelip dan 1001 macam lagi nikmat yang sedang kita gunakan saat demi saat. Sungguh banyak pemberian Allah pada kita. Begitu pemurahnya Allah. Cuma kadang-kadang Allah hendak uji hamba-Nya, sabar atau tidak, tahu bersyukur atau tidak, maka ditariklah satu nikmat daripada beribu-ribu nikmat itu.

Hamba yang sedar betapa banyaknya lagi nikmat yang masih ada, tentu terima ujian dengan sabar dan redha. Sebaliknya hamba yang tidak sedar diri atau tidak tahu menghitung nikmat Allah, tidak pandai bersyukur dan tidak sedar bahwa segala kepunyaannya hanya pemberian yang dipinjamkan oleh Allah, tentu membentak, tidak sabar, keluh kesah, dandurhaka dengan Allah. Dia tidak terima takdir itu, dirasanya tidak patut, kejam, tidak bijak katanya dan ditentang, dirungut, diaduadu, diungkit-ungkit, didengki, didendam dan macammacam lagi protes yang lahir dari sikap tidak setuju dengan kehendak Allah.

Alangkah biadabnya hamba ini. Hamba yang tidak sedar diri, tidak kenang budi dan tidak tahu berterima kasih. Mungkin ada orang tidak sedar bahwa apa juga kesusahan yang ditanggungnya semuanya dari Allah. Cuma Allah jadikan dia bersebab. Mungkin sebab anak sebab isteri, sebab kawan, sebab kendaraan, sebab duit, sebab air, sebab polis, sebab api, sebab orang jahat dan 1001 sebab lain. Sebab-sebab itu Allah gunakan dengan tujuan menguji kita. Jadi kalau kita tidak terima ertinya kita tolak Allah. Kalau marah ertinya marahkan Allah. Kalau mengamuk ertinya mengamuk dengan Allah. Kalau sombong ertinya sombong dengan Allah. Kalau dengki ertinya dengki dengan Allah. Kalau dendam, dendamkan Allah. Kalau kecewa ertinya putus asa dari rahmat Allah. Kalau benci ertinya benci Allah. Kalau merungut, ertinya merungut dengan Allah. Dan apa juga kerenah yang kita lakukan sewaktu ujian, ertinya kita buat perangai dengan Allah.

Siapakita, mau angkat kepala dengan Allah? Sedangkan nafas yang kita gunakan untuk memanjangkan umur kita detik demi detik itupun adalah belas ihsan Allah. Sedetik lagi kita boleh mati kalau Allah mau. Habis, mengapa berani kita sanggah Allah? Berani kita menolak keputusan Allah. Berani kita menjawab kehendak Allah?

Hamba yang sedar dirinya akan malu selalu dengan Allah. Budi Allah cukup banyak, tapi dia masih degil dan main-main dengan Allah. Pemberian Allah diterima dengan hati yang puas dan redha, sekalipun pemberian itu berupa ujian yang pahit. Sebab dia yakin setiap pemberian adalah dengan maksud baik dari Allah. Jadi tidaklah dia berlaku tidak senang dan hilang pertimbangan serta tidak sampai membuat perangai-perangai yang dilarang Allah.

Laksana seorang hamba dengan tuannya, si hamba tidak pernah tidak setuju dengan tuannya. Dia membodohkan dirinya. Menghina diri dan mati-matian kerja karena taat. Tidak pernah dia rasa dia tuan. Sebaliknya yang dia rasa nasibnya ditentukan oleh tuannya. Oleh itu ,dia mesti terima segala-galanya, baik atau buruk. Ketakutan, cemas, bimbang, rasa bersalah, rasa tidak kena, takut kena marah dan macam-macam lagi rasa kehambaan senantiasa bermain dalam hatinya. Itu yang mendorong dia tidak penat-penat kerja. Tidak main-main dan tidak cuai. Kerja senantiasa beres. Malah selalu mengintai-intai apa yang boleh dibuat lagi. Bila ada saja, terus tangkas bingkas. Hilang letih penat tanpa kira waktu. Tidak ada masa istirahat baginya. Tidak tahu erti penat. Yang dia tahu semua kerja tuannya mesti siap. Itulah hakikat hamba.

Sepatutnya setiap kita merasa begitu terhadap Tuhan kita. Sebab pada hakikatnya kita memang hamba. Kehambaan kita pada Tuhan patutnya lebii terasa dari penghambaan manusia kepada tuannya (majikannya) yang sama-sama manusia. Sedangkan kita dengan Tuhan tarafnya, kita ini barang buatan Tuhan. Hidup mati kita 100% berada dalam pengurusan dan pentadbiran Tuhan. Kalau Allah kata mati, matilah kita, kata lapar, laparlah kita, kata bodoh, bodohlah kita, kata miskin, miskinlah kita, kata terhina, terhinalah kita dan apa juga kehendak Allah pasti berlaku. Kita tiada kuasa sedikit pun untuk menahan atau menghentikan takdir dari berlaku. Bahkan keupayaan untuk berusaha mengelak daripada satu takdir buruk itu pun, kalau Allah tidak izinkan tidak akan dapat. Kemudian keputusan dari usaha itu pula, tetap merupakan keputusan Allah. Kita sesungguhnya amatlah lemahnya dan setiap detik bergantung kepada keputusan Allah.

Kalau begitu bukankah sepaturnya kita senantiasa cemas memikirkan apa yang akan Allah lakukan pada kita. Rasa malu sebab pemurahnya Allah pada kita. Macam-macam nikmat dilimpah ruah setiap ketika. Sedangkan kita terus durhaka, biadab, degil pada-Nya. Maha baiknya Allah, hinggakan kedegilan dan kesombongan hamba-Nya pada- Nya diterima dengan baik, tanpa marah dan hukuman. Nikmat terus dihantar juga, membuatkan si hamba lagi tidak sedar diri, lagi durhaka dan biadab dengan Tuhan- Nya.

Si hamba patut rasa hina sendiri, maklumlah asal-usul hanyalah dari setitis air mani, busuk, hanyir, berdarah berlendir, hina dina, miskin papa, jahil sejahilnya. Kalaulah Allah tidakmuliakan dengan sedikit ilmu, hartadanpangkat, kekallah kita dalam keadaan itu. Dalam keadaan itu layak dan munasabahkah kita mempersoalkan Allah, menyangka yang bukan-bukan pada Allah dan ragu-ragu dengan ketuhanan Allah?

Tidaklah yang demikian itu, melainkan bagi orang orang yang akan jadi kayu bakar api neraka. Moga-moga kita diselamatkan Allah dari itu.

Di dalam sebuah hadis Qudsi Allah ada berfirman yang bermaksud, “Barangsiapa yang tidak bersyukur dengan nikmat dari-Ku, tidak sabar dengan ujian, tidak redha dengan ketentuan-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.

  1. Bandingan seorang pemimpin yang tidak ada pengikut.

Seorang pemimpin Islam yang tidak ada pengikut bandingannya adalah seperti kepala kendaraanpi yang berjalan tanpa gerabak. Kalau ada pun barang yang hendak dibawa, terpaksalah diisi di kepala kendaraanpi itu juga. Tentu tidak sebanyak mana, yang lebihnya terpaksa ditinggal.

Seorang pemimpin Islam tentu bercita-citamenegakkan Islam. Bukan setakat perkara-perkara fardhu ain, yakni urusan individu dengan Allah. Kalau setakat itu tidak berjuang pun boleh buat. Tujuan berjuang adalah ingin menegakkan soal-soal fardhu kifayah, seperti sistem pendidikan, ekonomi, perobatan, pergaulan dan lain-lain lagi secara Islam. Bahkan sistem politik dan pentadbiran negara pun mau di-Islamkan.

Soalnya, bolehkah perkara-perkara itu dibuat seorang diri? Pembangunan sebuah sekolah saja perlu beberapa orang guru dan anak murid yang ramai. Persiapan-persiapan bangunan dan kelengkapan lain juga penting. Jadi, tentu tidak boleh dibangunkan seorang diri. Sebab itu kalau pemimpin Islam tidak ada pengikut (hanya ada peminat) maknanya banyak perkara yang tidak boleh dibuat dan diselesaikan.

Ada hati untuk buat itu, buat ini, tetapi karena tidak adatenaga maka terpaksalab dibatalkan. Macamlah kepala kendaraanpi yang ingin bawa banyak barang tapi karena tidak ada tempat maka terpaksalab ditinggalkan. Seterusnya bandingan seorang pengikut kepada seorang pemimpin Islam adalah umpama sebuah gerabak kereta api yang dilekatkan kepada kepala kereta api. Manakala seorang peminat kepada seorang pemimpin itu umpama pekerja kendaraanpi yang hanya memerhati dari luar. Gerabak akan turut bergerak kalau kepala bergerak. Tapi pekerja tidak ikut serta. Dia tinggal di stesyen, hanya lihat dan tunggu kereta api datang. Gerabak ikut ke mana saja kepala pergi dan buat apa saja yang kepala buat, tapi tidak dengan pekerja tadi.

Begitulah bandingan pengikut dengan peminat. Antara perbezaan sifat mereka adalah pengikut bersedia untuk bersama-sama dengan pemimpin dan taat pada perintah. Sebaliknya peminat hanya menunjukkan kesukaan dan persetujuan dengan pemimpin,tapi tidak ikut serta memikul beban perjuangan. Di samping tidak boleh taat pada pemimpin itu.

Seorang pemimpin harus sedar hakikat ini. Bahwa bukan semua yang datang ke majlis ceramah kita, atau yang ikut pengajian fardhu ain kita, atau yang datang ke tempat kita, bahkan yang mendaftar nama sebagai ahli itu adalah pengikut kita. Mereka itu hanya peminat namanya. Mereka suka kita karena apa yang kita buat sesuai dengan selera mereka. Tapi kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak mereka, mudah saja mereka lupakan kita, bahkan turut mengata dan menentang kita. Itulah peminat namanya, bukan pengikut. Pengikut adalah orang yang menjadi bahu pada perjuangan, yakni turut sama bekerja dan bersusah payah dalam membangun dan mempertahankan perjuangan.

Sebab itu berjuang sebenarnya bukan setakat berceramah, mengaji, berbahas, bentang kertas kerja, forum, dialog dan lain-lain bentuk cakap saja. Ahli mesti diajak bekerja membangunkan apa-apa yang kita cakapkan itu. Jangan ajak orang lain saja, diri dan keluarga sendiri serta ahli-ahli tidak dididik untuk melaksanakan. Dengan mengajak ahli-ahli kita berjuang bekerja dan bersusahpayah, barulah kita dapat kenal nanti siapa sebenarnya pengikut kita, dan siapa pula yang suka-suka saja, yakni peminat. Katalah daripada ribuan orang yang datang ke majlis kita, bila kita arahkan sesuatu hanya 100 yang taat, maka 100 orang itulah saja pengikut kita. Yang lain itu hanya simpati atau peminat. Mereka perlu dididik lagi, dipahamkan lagi, diyakinkan lagi tentang perjuangan, agar mereka meningkat ke taraf pengikut.

Sesebuah harakah yang ahli-ahli tidak boleh diarahkan tentu tidakdapat melakukan apa-apa kemajuandan aktiviti. Oleh karena pemimpin itu tidak dapat melakukannya secara seorang diri, maka tentu harakah itu tidak dapat berjalan. Maka jadilah harakah yang tidak memberi apa-apa faedah pada masyarakat. Yang selalu riuh-rendah tapi hasilnya tidak nampak juga.

Seterusnya seorang pemimpin yang mengajak pengikutnya berjuang dengan semangat saja, bukan dengan amal soleh, akhlak, pengorbanan, zuhud, berkasih sayang dan taqwa adalah umpama kendaraanpi yang siap dengan kepala dan gerabak tapi tidak boleh berjalan sebab mesin lemah. Bunyinya memang kuat, tanda bersedia untuk bergerak, tapi bila start mesin, rupanya mesin lemah maka tidak boleh berjalan.

Pribadi pejuang Islam adalah pribadi yang bertaqwa, berakhlak, zuhud, berkasih sayang sesama mukmin, banyak amal ibadah dan amal soleh serta kuat berkorban. Orang beginilah yangbolehdanlayakdanmampuuntukberjuang. Tanpa sampai ke tahap ini, seseorang hanya setakat suka pada pejuang tapi tidak mampu hendak berjuang. Jadi kalau pengikut tidakdididikuntukmemiliki sifarini ertinya pemimpin tidak bawa berjuang, cuma setakat cerita tentang perjuangan. Keadaan inilah yang membuatkan orang boleh bertempikkan Islam! Islam! Islam! tapi dia sendiri (pemimpin) tidak mampu membawa pengikutnya perjuangkan Islam. Islam hanya ditegakkan pada dirinya sahaja. Malah, ada yang lebih parah, diri sendiri pun turut tidak dapat bertindak seperti apa yang dilaung-laungkan.

  1. Bandingan orang yang tertipu dengan ibadah.

Seorang hamba Allah yang dapat menyelesaikan semua perintah Allah tapi kemudian merasa tenang hati dan hilang rasa kehambaan pada Allah, adalah ibarat seorang hamba di istana raja yang dapat buat semua kerja yang disuruh maka ia pergi mengadap raja sambil bercekak pinggang, sombong dengan kebolehannya serta membanggakan diri di depan raja. Sekalipun raja itu seorang yang baik hati pada hamba-hambanya, tetapi sikap besar diri, sombong dan bangga dengan kebolehan hamba itu akan membuatkan raja murka. Bila raja murka, semua kerjanya tadi tidak akan bernilai lagi. Sebagai seorang hamba patutnya walaupun kerja dapat disiapkan, dia tetap berwatak hamba. Yakni mengadap raja dengan penuh takzim, merendah diri dan takut kalau-kalau kerjanya tidak diterima, akan buruklah nasibnya nanti. Barulah datang kasih sayang dan belas kasihan raja kepada si hamba tadi.

Demikianlah seorang manusia yang berbangga dengan ibadahnya, dengan kebajikan dan perjuangannya, rasa selamat karena telah menunaikan perintah Allah, rasa sombong karena boleh melakukan sesuatu yang orang lain tidak dapat melakukannya, rasa ujub karena mampu menyempurnakan program perjuangan dakwahnya, pidatonya, pengorbanannya, beraninya, gigihnya, maka orang ini sebenarnya telah bersalah lagi dengan Allah. Sebab selaku seorang hamba Allah, sepatutnya dia senantiasa rasa dia hanya hamba, yang mana setiap suatu adalah pemberian Allah, bahkan ibadah-ibadahnya, pengorbanan, jihadnya, pidatonya dan lain-lain pun kalau Allah tidak izinkan nescaya dia tidak dapat melakukannya.

Orang yang paham begini tentu tidak merasa tenang dengan amal ibadahnya. Apa lagi untuk riak, ujub dan sombong dengannya. Sebab belum tahu Allah terima dan bemilai di sisi Allah. Kalau begitu dia tetap belum selamat dari hukuman dan kemurkaan Allah. Bukan ibadahnya yang menyelamatkan, tetapi rahmat Allah. Kalau susah payah kita beribadah itu, benar-benar ikhlas karena Allah, diiringi pula rasa takut dan cemas kalau-kalau tidakditerima Allah hingga datang kasihan belas Allah, maka selamatlah kita.

Tetapi kalau ibadah itu dibuat karena sesuatu kepentingan lain, dibangga-banggakan pula, dengan sombong dan besar diri, tentu Allah tidak suka. Mentang-mentang karena ibadah sudah selesai, perangai sudah satu macam, lupa diri yang dia harry a hamba, yang semua kekuatan dan kebolehan yang ada bukan hak mutlaknya, tapi kumiaan Allah dan boleh ditarik balik bila-biia masa sahaja. Orang begini akan dibenci Allah dan semua ibadahnya tertolak. Dia hanya boleh lepaskan diri kalau dia sanggup bertaobat dan sedarkan diri selalu bahwa setiap kebolehan dia bahkan untuk rukukdan sujud itu adalah kumiaan Allah. Kalaupun nampaknya dia yang berusaha, tetapi bukan usaha itu boleh menyelamatkamrya dari api neraka.

Kalau begitu dia kena cemas, takut dan bimbang senantiasa nasibnya dan tentang apa kata Allah padanya. Rasa hina diri, kurang dan mengharapkan belas kasihan Allah untuk menyelamatkannya. Segala-gala yang ada milik Allah dan kalau dia dapat, maka itu bukan hak dia tapi hak Allah. Bagaimana seorang boleh berbangga-bangga dengan nikmat orang lain sampai melupakan dan tidak hormat pada tuan punya nikmat? Sesungguhnya Allah benci pada hamba-Nya yang begitu.

Sebaliknya Allah suka dan kasihan pada si hamba yang senantiasa rasa kurang, rasa lemah, takut, cemas, rasa tidak selamat dan harap pada Allah, sekalipun amal baktinya tidak banyak dan kurang sempuma. Sepertilah hamba raja yang walaupun kerja-kerjanya kurang sempuma, kemudian pergi mengadap raja dengan penuh adab sopan dan rendah diri, maka tentu raja akan berbelas kasihan padanya. Sebab raja suka pada orang yang berbudi tinggi, berakhlak mulia, walaupun pelayanannya kurang sempuma disebabkan kelemahan-kelemahannya.

Hamba yang paling Allah suka adalah yang dapat menyempumakan semua perintah-Nya dengan baik dan sempuma tapi dalam masa itu tetap rasa tidak selamat, rasa hina diri, rasa takut, rasa malu dan bimbang kalau ibadah tidak diterima. Di samping merasa apa yang dapat dibuat semuanya pemberian dan keizinan Allah. Inilah orang yang tertinggi darjatnya di sisi Allah SWT. Yang sudah selamat di dunia, selamat dari tipuan nafsu dan syaitan dan selamat dari api neraka.

Orang yang paling tidak selamat adalah orang yang langsung tidak peduli dengan perintah Allah. Tapi merasa sombong, takabur, tidak takut dengan Allah dan rasa dia boleh selamat di akhirat. Dirasa aman dari azab Allah. Inilah isi neraka. Orang yang Allah tidak pandang padanya di akhirat nanti.

Perlu diingat bahwa ibadah yang dimaksudkan bukan saja sholat, puasa, haji tapi apa jua kerja kita yang kita niatkan karena Allah.

  1. Bandingan orang yang membiarkan anak isteri yang tidak dididik.

Bandingan seorang lelaki yang sibuk memperjuangkan Islam tapi anak-anak isteri dibiarkan dalam keadaan jahil dan maksiat, samalah seperti seorang yang sedang belayar membiarkan anak isterinya memasukkan air ke dalam kapal. Bila kapal karam, maka si suami turut karam. Anakanak isteri adalah orang yang sangat penting dalam hidup kita. Kalau mereka baik, baiklah kita. Kalau mereka sihat, sihatlah kita. Kalau mereka suka, sukalah kita. Sebaliknya kalau mereka sakit, sakitlah kita dan kalau mereka rosak, rosaklah kita. Karena itu Allah perintahkan diambil berat pada mereka itu, lebih utama dari memikirkan hal lain dan orang lain. Firman-Nya:

Jagalah dirimu, dan ahli keluurgamu daripada api neraka. (At Tahrim : 6)

Untuk selamat daripada api neraka, kita kena jaga diri dan ahli keluarga. Bukan jaga diri sendiri saja. Sebab keselamatan anak isteri kita bererti keselamatan kita. Sebaliknya binasa mereka, binasalah kita.

Syariat telah menetapkan bahwa kejahatan isteri bererti kejahatan suami. Sebab itu kalau suami baik tapi isteri jahat, maka dikira suami pun jahat juga. Sebab isteri itu pakaiankita, orang yang kita gunakanuntukmenyelesaikan masalah nafsu kita. Ertinya mereka itu sebagian dari kita. Kalau begitu masakan kita tergamak memakai dan menggunakan sesuatu yang kotor dan jahat. Tentu tidak! Sebab itu Allah menghendaki agar anak isterilah dulu yang dididik sebelum mendidik orang lain. Ajar anak isteri dulu sebelum ajar orang lain. Hukum anak isteri dulu sebelum hukum orang lain. Jangan biarkan anak isteri liar dan jauh dari hukum-hakam Allah, tapi dalam pada itu kita bertempik sana, bertempik sini perjuangkan Islam. Keadaan ini akan menjatuhkan kita di sisi Allah dan di sisi manusia. Manusia akan mengata kita dan tidak percaya pada perjuangan Islam. Manakala Allah sendiri tidak terima perjuangan kita.

Ini dapat dibuktikan dengan kisah yang berlaku pada seorang abid yang sudah tujuh puluh tahun beribadah. Satu hari dia menadah tangan ke langit dan berdoa, “Wahai Tuhan, terimalah amalanku.”

Tiba-tiba terdengar suara menjawab, “Engkau adalah tertolak karena mempunyai isteri yang jahat.”

Terperanjat sungguh si abid, maka segeralah ia kembali ke rumah bertanya isterinya, “Apa yang engkau buat di belakangku?”Isterinyapunbercerita,”Sayapergi kemajlis kahwin yang penuh maksiat, hingga saya tertinggal sholat.” Maka si suami tanpa bertangguh-tangguh lagi terus menceraikan isterinya itu: Kemudian dia kembali ke tempat ibadahnya dan terus bermunajat, “Wahai Tuhan, terimalah aku.” Maka menjawab suara tadi dari pihak Tuhan, “Sekarang amalan engkau diterima.”

Dari kisah ini pahamlah kita bahwa isteri yang degil dan engkar boleh diceraikan demi menjaga hubungan dengan Allah SWT. Sebab dosa-dosa isteri boleh menghijab (mendinding) suami dari Allah SWT.

Perlu diingat bukan senang mendidik isteri yang sudah rosak. Rosak iman, rosak akhlak, rosak ibadah dan rosak ketaatan dan kepatuhan pada suami. Mereka sudah gila dunia, sombong, takabur, hasad dengki, rasa pandai, rasa mampu, bahkanrasalebihdari suami, tidakperlubersandar pada suami, kalau dicerai cari yang lain. Dalam keadaan itu bukan senang hendak ajak mereka pada Allah, hendak suruh taat suami. Maka kenalah serius mencari jalan yang boleh membentuk mereka sedikit demi sedikit. Kita kena banyak-banyak sabar. Kalau mereka degil sangat, dalam keadaan dosa masih dilakukan, dan kita terlibat sama, maka boleh diceraikan. Tapi kalau tidak mau cerai, karena sayang, maka bersungguh-sungguhlah mendidik. Kalau tidak begitu, kita takut kalau-kalau kebahagiaan hidup bersamanya hanya setakat di dunia sahaja. Di akhirat tercampak dalam kemurkaan Allah. Suami ke mana, isteri ke mana. Bercerailah selama-lamanya.

Anak adalah darah daging kita. Sebab itu doa anak yang soleh untuk arwah ibu bapa diterima Allah. Maka didiklah mereka dengan sungguh-sungguh.

  1. Bandingan antara cantik dan akhlak pada perempuan.

Perempuan cantik tapi berakhlak jahat, durhaka suami, adalah ibarat bunga raya, cantik tetapi tidak harum baunya. Sebaliknya perempuan yang tidak cantik tapi berakhlak mulia, taat Allah, taat suami, ibarat bunga cempaka, tidak cantik tapi wangi baunya.

Antara bunga raya dan bunga cempaka, bunga cempaka lebih diminati. Sebab itu kita tengok bunga cempaka dijual dan dipakai tapi bunga raya tidak dijual dan dipakai. Keutamaan petempuan samada cantik atau tidak cantik adalah pada akhlaknya, taqwanya dan taatnya pada suami. Perempuan cantik tidak berakhlak dan tidak taat adalah menyakitkan hati suami walaupun sedap mata memandang. Perempuan tidak cantik pula kalau tidak berakhlak dan tidak taat, menyakitkan hati dan menyakitkan mata. Sebab itu usah bangga dengan rupa dan usah risaukan sangat hal rupa paras yang tidak cantik. Tetapi berlumba-lumbalah untuk menjadi wanita yang bertaqwa, berakhlak mulia dan taat suami.

Kalau ini ada, nescaya Allah sayang, suami sayang dan semua manusia sayang. Bukankah itu yang menjadi cita-cita dan keinginan setiap wanita?

 

Advertisements

One thought on “Beberapa Perbandingan

  1. Pingback: Rindu Nabi | Kisah Nabi Muhammad SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s